December 02, 2016

Pelajaran Seperempat Abad #6

Diantara berbagai pelajaran yang saya dapat selama hidup saya, bagi saya yang satu ini yang paling sulit untuk saya terima. Menerima bahwa hidup pada dasarnya memang selalu berubah dan akan terus mengubah kita - suka atau enggak suka. Pertama kali saya sadar dan merasa sangat kecewa ketika mengetahui bahwa hidup akan terus berubah, saya memutuskan untuk mengubah diri saya dengan menjadi orang yang terus melakukan perubahan. Saya mengubah diri saya untuk enggak membiarkan diri saya terlalu merasa nyaman dengan segala sesuatu di luar dari diri saya sendiri. Saat itu dengan harapan bahwa saya enggak akan merasa dikecewakan lagi karena saya mengikuti apa yang hidup inginkan.


Perlahan - lahan saya menjadi sosok orang yang terbiasa dengan perubahan dan menjalani hidup saya secara tidak tetap. Saya enggak bisa mengatakan secara pasti bahwa saya menyukai ritme hidup yang seperti itu. Tapi satu hal yang selalu saya coba untuk yakini ke diri saya adalah menjalani hidup secara monoton dan melakukan rutinitas dalam jangka panjang, bukanlah sesuatu yang bisa membuat saya bahagia. Menghabiskan waktu terlalu lama dengan orang, lingkungan, dan hal yang sama bukanlah suatu yang baik. Karena pada akhirnya hanya membuat saya menjadi lemah karena pasti saya akan bergantung dengan mereka. Sebaliknya, saya menemukan semakin banyak manfaat dan kebaikan bagi diri dan hidup saya melalui berbagai perubahan yang saya jalani; yang saya tau bahwa enggak akan pernah saya dapatkan jika saya hanya melakukan hal yang sama dan menetap di tempat yang sama. Karena tanpa berubah, kita enggak akan bisa berkembang. Makanya saya mengubah diri saya cukup jauh dari diri saya yang dulu. Saya sekarang sangat jauh berbeda dari saya saat sepuluh tahun yang lalu, terutama karena selama lima tahun terakhir ini saya melakukan perubahan secara terus menerus dan cenderung lebih cepat dari biasanya. Baik hal yang tampak maupun tidak, baik yang saya sadari maupun tanpa disadari, baik yang hanya berdampak ke dalam diri saya maupun ke lingkungan sekitar saya. Perubahan tersebut akhirnya membuat saya merasa bahwa saya enggak bisa lagi hidup secara settle. Bahkan saat itu saya mempertanyakan tentang orang - orang yang bisa bertahan untuk menghabiskan hidup mereka dengan hal yang sama selama bertahun - tahun, dan bahkan sepanjang usianya.


But life is always full of surprises. Boom! Karena sebenarnya dengan saya terus berubah dan mengubah hal - hal dalam hidup saya, saya hanya mencoba lari dari kenyataan bahwa sampai kapanpun saya enggak akan pernah bisa mengontrol hidup saya sepenuhnya. Di tahun ini, di penghujung usia saya saat ini, akhirnya saya mampu memahami posisi mereka yang memutuskan untuk menghabiskan hidup mereka dengan hal yang sama. Entah karena saya sedang merasa lelah dengan perubahan dalam hidup saya yang terjadi terus - menerus, sehingga saya mengalami kebosanan dengan perubahan itu sendiri. Entah karena belakangan ini ada beberapa hal yang terlalu cepat berubah sehingga membut saya lelah untuk menjalani, menghadapi, dan menerima berbagai perubahan tersebut. Entah karena saat ini saya sedang kehilangan keseimbangan saja. Entah karena memang tabiat manusia yang pada akhirnya akan mencapai satu titik dimana butuh sesuatu yang 'tetap'. Entah memang hidup memang berjalan seperti itu; berubah dan mengubah kita, bahkan di saat kita sudah 'mengikuti' ritme hidup yang terus berubah. Yang jelas, saat ini saya akhirnya (mencoba) menerima bahwa at the end of the day we can't control our lives, but we can still control our reactions and attitudes towards it. Dan kali ini ketimbang terus menjadi seseorang yang offensive dengan hidup, saya memilih untuk menerima kenyataan bahwa kali ini saya hanya butuh suatu kepastian dan ketetapan. Saya hanya butuh konsistensi. Saya hanya ingin merasa nyaman dengan familiaritas.

November 28, 2016

#ROH 50: Bandung

Rasanya udah berkali - kali saya menceritakan tentang betapa spesialnya kota ini bagi saya. Tapi kedatangan saya kali ini sebenarnya diawali hanya dari sebuah rencana untuk bertemu dengan salah seorang dosen di universitas tempat saya kuliah sarjana dulu. Yaa walaupun dalam hati memang sudah ada rencana juga untuk sekalian melepas rindu dengan kota yang udah saya anggap sebagai rumah dibandingkan kota kelahiran saya sendiri. Memang pada dasarnya kami sering satu pikiran, tiba - tiba Fia juga mengajak untuk menghabiskan akhir pekan di Bandung. Tanpa berpikir panjang, saya dan Anna pun langsung menyetujui ide tersebut. Padahal seminggu sebelumnya kami sudah menghabiskan akhir pekan bersama dengan menginap di rumah Anna, kuliner di sekitar Bintaro, nonton film horor, dan karaoke. Namun semua hal tersebut enggak sedikit pun mengurangi excitement kami untuk kembali melalui akhir pekan selanjutnya bersama lagi. Malahan saya semakin bersemangat karena bisa membawa kedua sahabat saya ini untuk menjelajah bagian kota Bandung yang belum pernah mereka kunjungi. Bagi saya pribadi, yang menjadi incaran setiap kali datang ke kota ini memang bukan atraksi wisata atau restoran baru, tapi justru tempat - tempat yang menjadi favorit dan sering saya kunjungi saat kuliah dulu.






Walaupun pada akhirnya memang enggak semua rencana kami dapat terealisasi, tapi saya tetap menikmati Bandung seperti biasanya. Bahkan kali ini cukup banyak perbedaan dari kunjungan saya sebelum - sebelumnya yang membuat segalanya terasa lebih refreshing bagi saya. Mungkin karena kali ini dilakukan dengan para sahabat saya. Atau mungkin karena memang sudah lama aja saya enggak berkunjung kesana. Mulai dari menunggu hujan reda di salah satu bangku di Braga sambil berdiri, foto - foto, ngobrol, main hp, sampai selfie (yang tetap tak kunjung reda sampai akhirnya kami menyerah dan menunggu di salah satu restoran yang ada disana). Belum lagi kondisi tempat penginapan kami yang cukup jauh berbeda dari yang kami harapkan, namun seenggaknya memiliki sebuah kedai makan yang dihiasi dengan dekorasi lucu dan dinding penuh dengan tanaman rambat. Dan yang paling saya nikmati justru ada di hari terakhir kami. Naik angkot dari Cipaheut menuju Simpang Dago, lalu menyantap sarapan di Bubur Zaenal, kemudian dilanjutkan dengan Pasar Gasibu yang hanya diadakan di hari Minggu pagi. Lagi - lagi, meskipun hari kami ditutup dengan perjalanan Bandung - Jakarta hingga 7 jam dikarenakan genangan air di tol Cikampek, tapi entah kenapa, saat itu saya sangat menikmati obrolan kami bertiga di bangku tengah mobil travel yang kami tumpangi dan juga ketika akhirnya kami bisa menyantap tahu Sumedang di salah satu pemberhentian setelah lima jam terjebak di jalan. 






November 21, 2016

Pulang

Selama bertahun - tahun tinggal di tanah kelahiran saya sendiri, bisa dibilang baru kali ini saya merasa begitu menghargai waktu saya selama di Indonesia. Aneh memang, padahal dulu waktu saya kuliah di Inggris, selama satu setengah tahun penuh saya tinggal disana sama sekali enggak pernah rindu untuk kembali ke negara saya sendiri. Meskipun kali ini alasan utama saya pulang "lebih awal" adalah karena urusan pekerjaan dan dari awal saya enggak mau terlalu banyak berekspektasi dengan kepulangan kali ini, saya tau bahwa jauh di dalam hati saya ada perasaan senang dan nyaman saat mengetahui bahwa saya akan pulang ke Indonesia. Dan memang ternyata pulang adalah obat yang saya butuhkan untuk mendapatkan kembali energi positif dan kekuatan bagi diri saya.


Hal pertama yang menjadi alasan mengapa kepulangan kali ini begitu berharga adalah karena kehadiran orang - orang terdekat saya, baik dari keluarga maupun sahabat, yang menemani saya selama disana. Saya semakin sadar bahwa sekalipun selama di Belanda udah cukup banyak orang yang saya kenal dan beberapa diantaranya bisa dikatakan sebagai teman, sampai saat ini belum ada yang bisa menggantikan posisi keluarga, sahabat, dan juga teman - teman yang saya miliki di Indonesia. Selama hampir sebelas bulan disini, saya enggak pernah sekalipun menceritakan apa yang saya rasakan dan menunjukkan diri saya sebenarnya. Saya selalu menggunakan topeng sehingga yang mereka lihat hanyalah diri saya yang terlihat baik - baik saja. Namun ketika saya pulang, saya bisa melepaskan topeng yang saya gunakan selama disini dan mengeluarkan seluruh perasaan yang terpendam sekian lama tanpa merasa segan dan malu. Dan bagi saya, enggak ada hal yang lebih penting saat ini daripada kedua hal tersebut.


Hal lainnya yang juga saya dapatkan ketika pulang adalah perasaan bersyukur. Saya tau bahwa setiap dari kita memiliki permasalahan hidup yang berbeda - beda dan enggak bisa dibandingkan satu sama lain. Tapi ketika saya kembali ke Indonesia dan melihat begitu banyak kelompok masyarakat yang kurang beruntung dari saya, semua itu sangat menyadarkan saya untuk terus berjuang dengan kehidupan saya saat ini. Saya bersyukur bukan karena melihat ketidakberuntungan mereka, tapi saya bersyukur bahwa saya masih dibukakan hati untuk melihat perjuangan orang - orang tersebut dalam menjalani hidup mereka. Saat itu saya tersadarkan bahwa seberapapun beratnya masalah yang saya hadapi saat ini, masih ada banyak hal yang perlu disyukuri dan pantas untuk diperjuangkan.


Kembali ke Indonesia juga membuat saya merasa menjadi seseorang yang berarti. Jujur, semakin lama saya menjalani kehidupan saya di tempat ini, membuat saya seperti seseorang yang invisible. Namun saat kembali ke Indonesia, melihat response orang - orang baik di sosial media maupun teman - teman lama yang langsung menghubungi saya untuk bertemu, membuat saya seperti kembali ada dan bermakna bagi orang lain. Mereka juga menyadarkan bahwa saya tetaplah Ozu yang dulu. Karena beberapa bulan ini membuat saya sempat berpikir kalau saya berubah menjadi sosok orang yang berbeda, sosok orang yang enggak saya harapkan. Tapi setelah pertemuan saya dengan orang - orang yang sudah mengenal saya sejak lama, membuat saya lega karena saya tau bahwa enggak ada yang berubah dari diri saya. Sayangnya, dikarenakan waktu saya yang sangat singkat dengan jadwal yang cukup padat untuk urusan pekerjaan dan kuliah, membuat saya enggak bisa bertemu dengan lebih banyak orang selama kepulangan saya kemarin. Semoga aja kepulangan saya selanjutnya bisa memberikan kesempatan untuk bertemu lebih banyak orang, baik orang - orang yang sudah saya kenal maupun yang belum saya kenal. 

November 11, 2016

Pelajaran Seperempat Abad #5


Dari kecil Bunda selalu mengajarkan saya untuk peka terhadap segala kejadian yang ada dalam hidup kami. Karena beliau selalu percaya bahwa pertolongan Tuhan itu selalu ada. “Kalau hidup cuma lihat dari logika manusia aja, kayanya Ayah dan Bunda enggak akan bisa bertahan sampai sekarang”. Begitu kira – kira yang selalu diingatkan oleh kedua orang tua saya tentang perjalanan hidup mereka sejauh ini. Dan ya, saya sendiri pun juga sudah sering mengalaminya selama dua puluh lima tahun ini. Begitu banyak pertolongan yang diberikan oleh semesta, baik yang awalnya diberikan dalam bentuk rezeki maupun musibah, baik berupa kebahagiaan maupun penderitaan. Terkadang pertolongan tersebut juga diberikan melalui pertemuan kita dengan orang – orang tertentu. Terlepas dari nantinya mereka memberikan kenangan yang baik maupun buruk dalam hidup kita, tapi seenggaknya sejauh ini, sebagian besar orang - orang yang pernah memainkan peran dalam hidup saya selalu memberikan pelajaran baru dan berguna untuk saya.


Bagi saya sendiri, pertolongan yang begitu berharga bagi hidup saya sejauh ini adalah yang baru – baru ini terjadi. Ketika saya hampir tidak menemukan jalan keluar, tiba – tiba terbersit sebuah pikiran. Saya ingin pulang ke Indonesia. Mungkin dengan begitu, mungkin, segalanya akan berubah menjadi lebih baik. Walaupun hanya sedikit. Walaupun saya enggak begitu yakin. Namun akhirnya niat saya ini sempat saya kubur kembali. Sebagian karena kepercayaan saya bahwa semua ini akan membaik dengan sendirinya dengan berjalannya waktu. Sebagian karena keraguan saya bahwa pulang akan mengobati saya, karena mungkin justru dengan pulang akan menambah buruk keadaan saat ini. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk bertahan beberapa bulan ke depan, sesuai yang sudah direncanakan dari awal. Namun disitulah pertolongan dari semesta. Tiba – tiba saya mendapatkan telefon dari universitas tempat kerja saya di Indonesia bahwa ada suatu kepentingan terkait posisi pekerjaan saya disana yang membuat saya HARUS pulang. Alhasil saya baru membeli tiket pesawat untuk pulang hanya dua hari sebelum saya ke Indonesia. Seumur – umur saya melakukan perjalanan, apalagi untuk perjalanan sejauh ini, bisa dibilang ini adalah kali pertama saya memutuskan secara mendadak.




Hari ini tepat hari ke-12 semenjak saya kembali ke Indonesia. Melihat apa yang terjadi dalam rentang waktu ini, saya bisa bilang dengan yakin di detik ini bahwa kabar dadakan yang membuat saya harus pulang ke Jakarta pada empat belas hari yang lalu, adalah bentuk pertolongan yang diberikan semesta kepada saya. Sebenarnya saat itu bisa aja saya menolak pertolongan yang diberikan oleh semesta. Bisa aja saya enggak memenuhi panggilan dari tempat kerja saya dan memutuskan untuk tetap di Rotterdam sampai saat ini. Tapi saya tau saat saya mendengar kabar tersebut, saya langsung yakin bahwa ini memang cara Tuhan untuk ‘memaksa’ saya pulang. Karena ia tau bahwa tanpa adanya kabar ini, saya enggak akan pulang sebelum Juni tahun depan. Dan mungkin tanpa adanya kabar ini, saya akan terus berada di dalam kegelapan yang sama, tanpa menemukan lubang – lubang baru yang menjadi sumber cahaya saya saat ini. 



Mengalami ini semua, saya semakin yakin bahwa apapun yang terjadi dalam hidup pasti selalu ada makna dibaliknya. Karena pada waktu tertentu, semesta hanya memberikan pertanda - pertanda yang menjadi petunjuk bagi kita terkait jalan yang perlu kita ambil untuk kehidupan di masa yang akan datang, tanpa secara langsung membelokkan kita ke jalan tersebut. Mungkin supaya kita bisa memilih takdir kita sendiri, memilih jalan mana yang mau kita ambil.  Entah untuk menolong kita di hari esok. Minggu depan. Bulan depan. Tiga bulan ke depan. Tahun depan. Atau bahkan beberapa tahun setelahnya. Namun, apakah tanda tersebut akan menjadi pertolongan atau bukan, tergantung lagi pada diri kita. Apakah kita mau mempercayai dan mencobanya; atau memilih untuk berpura - pura bodoh lalu mengacuhkannya.