January 15, 2017

#Pelajaran Seperempat Abad

Berhubung #pelajaranseperempatabad ini dari awal ditulis sebagai pengingat apa yang saya dapatkan selama saya mencapai usia dua puluh lima tahun, maka sudah saatnya diselesaikan (meskipun telat dua hari. Ha!). Dan karena katerbatasan waktu dan kata - kata, maka untuk menutup postingan #pelajaranseperempatabad, saya ingin menuliskan beberapa quote favorit yang kurang lebih menggambarkan pelajaran - pelajaran lainnya yang saya dapatkan terutama tepat di usia 25 tahun ini.


9. They always say time changes things, but you actually have to change them yourself - Andy Warhol

10.  Last night during Taraweh Prayers, in the sermon the speaker mentioned an interesting fact about how only 3% of the Quran is about rules and 97% of it is about ethics. This made me think that many people focus mainly on the rules and give little attention to ethics. We tend to easily feel that we are good when we are praying, eating halal, not drinking alcohol, fasting, etc. Abiding by those rules are wonderful and should be practiced, but neglecting our ethics in how we should be treating others, make negative judgments about people, and feel proud of ourselves when we are abiding by the 3% of rules. The lesson learn is loud and clear: Let’s not stay satisfied with 3%, but think hard and deep about 97% too - Rahman Popal, Kandahar

11. If you love something, let it go. If it was meant to be, it will come back to you - Cecelia Ahern

12. Remember that sometimes not getting what you want is a wonderful stroke of luck - Dalai Lama XIV

13. Some of the most wonderful people are the ones who don't fit into boxes - Tori Amos

14. Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn't do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbour. Catch the trade winds in your sails. Explore, dream, discover - Mark Twain

15. The worst of our faults is our interest in other people's faults - Imam Ali bin Abi Thalib

16. The most significant gifts are the ones most easily overlooked. Small, everyday blessings: woods, health, music, laughter, memories, books, family, friends, second chances, warm fireplaces, and all the footprints scattered throughout our days - Sue Monk Kidd

17.  Life is a series of natural and spontaneous changes. Don't resist them, that only creates sorrow. Let reality be reality. Let things flow naturally forward in whatever way they like - Lao Tau


18. You don't have to judge the whole world by your own standards. Not everybody is like you, you know - Haruki Murakami

19. The best way to know life is to love many things - Vincent Van Gogh

20. In order to determine whether we can know anything with certainty,  we first have to doubt everything we know - Ted Mosby

21. Everybody knows that everybody's normal till you get to know them better. But instead of not getting to know anybody, you're still willing to get to know strangers because you want to cure you loneliness, because you don't want to spend holiday seasons alone watching woodie allen movies. And the cycle goes like this: strangers become non strangers become strangers. All over again - Lala Bogang

22. Be kind, for everyone you meet is fighting a battle you know nothing about - Wendy Mass

23. You don't need an expensive camera to capture beauty. All you need is a good pair of eyes and a story within every shot you captured - Dylan Sada

24. The truth is, everybody is going to hurt you. You just gotta find the ones worth suffering for - Anonymous

25. Don't wish me happiness, I don't expect to be happy all the time. It's gotten beyond that somehow. Wish me courage and strength and a sense of humour. I will need them all - Anne Morrow Lindbergh

January 01, 2017

Goodbye, Roller-Coaster Year!

Baru kali ini saya menjalani tahun dimana baik kehidupan personal saya maupun berita yang disampaikan oleh dunia sama - sama mendukung untuk ingin segera meninggalkan 2016. Tahun yang membuat saya seperti sedang naik roller coaster. Penuh dengan kejutan dan rasanya terus berubah setiap detiknya. Detik ini saya berada di titik tertinggi, detik berikutnya saya sudah berada di titik terbawah. Detik ini saya sedang menatap ke langit, detik berikutnya saya sedang menatap terbalik dengan posisi seratus delapan puluh derajat yang berbeda dari sebelumnya. Detik ini saya berada di jalur yang lurus, detik berikutnya saya sudah berada di jalur berbelok. Seperti makna roller-coaster bagi saya, selalu membuat saya penasaran, bersemangat, dan tentunya ada kesenangan tersendiri yang enggak saya dapatkan dari atraksi lainnya. Namun terkadang ketika saya sedang kurang beruntung, ada saatnya ia membuat saya merasa pusing, takut, dan mual. Sayangnya, kali ini saya kurang beruntung. Roller-coaster yang saya naiki ternyata belum sesuai dengan kondisi saya sehingga berujung rasa sakit. Tapi seiring berjalannya waktu, saya bersyukur bahwa rasa sakit tersebut perlahan - lahan hilang dan tergantikan dengan kepuasan karena saya tidak lagi penasaran. Kepuasan karena pada akhirnya saya berhasil melewatinya.


Saya bilang roller-coaster, karena sebenarnya tahun 2016 enggak sepenuhnya membawa keburukan bagi saya. Malahan, setengah tahun pertama saya melewatinya dengan penuh rasa syukur. Tahun dimana saya merasa sangat bahagia karena begitu banyak mimpi saya yang tercapai. Memulai program doktoral dengan topik riset yang saya inginkan. Tinggal di kota yang menyenangkan dan menjalani hari - hari yang membuat saya merasa seimbang secara fisik dan mental. Jalan - jalan ke berbagai tujuh negara di Eropa setelah tiga tahun yang lalu sempat ditolak dua kali visa Schengen saya, yang mana semua perjalanan tersebut terasa sangat menyenangkan. Serta yang menjadi highlights tahun ini adalah impian saya untuk menjadi published author akhirnya tercapai, dan lebih dari itu, saya bisa mempublikasikan dua buku sekaligus di waktu yang berdekatan.

Tahun dimana saya merasa sangat nyaman, mencintai, dan bersyukur dengan diri saya. Membuat saya enggak malu lagi untuk menunjukkan kelemahan saya (baca: Setengah Perjalanan di Seperempat Abad). Membuat saya merasa sangat yakin bahwa saya sudah sangat memahami setiap bagian diri dam merasa sangat bersyukur karena hidup saya terasa sangat baik, seimbang, dan hampir tanpa masalah. Tahun dimana saya sangat merasa senang dengan kesendirian hingga kenyataan bahwa berbulan - bulan dikelilingi oleh orang - orang dan lingkungan yang tidak familiar, enggak merisaukan hati saya sedikitpun. Tahun dimana saya merasa begitu banyak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang - orang terdekat, orang yang baru saya kenal, hingga orang - orang yang sama sekali enggak saya kenal.


Di waktu lain, saya melewati hari - hari dimana saya enggak tau lagi mimpi saya apa. Rasanya ratusan mimpi yang saya punya, berbagai semangat membara untuk meraih mereka; semua hilang diterpa angin dan hujan badai. Waktu dimana semua rasa percaya diri dan keyakinan dengan diri saya tersebut perlahan - lahan hilang, bahkan saya mencapai titik dimana saya memiliki pikiran negatif dan memandang rendah diri saya. Waktu dimana saya merasa sangat bingung dengan diri saya, hingga saya membutuhkan pertolongan orang lain untuk membantu saya memahaminya. Waktu dimana saya merasa begitu banyak masalah yang tertumpuk hingga butuh waktu lama untuk bisa menguraikan satu per satu masalah yang saya miliki untuk mencari akar permasalahan sebenarnya. Waktu dimana saya merasa sangat lemah hingga enggak bisa lagi sendirian dan selalu mencari orang untuk berinteraksi. Waktu dimana segala rencana yang telah saya buat sebelumnya berujung pada penyesalan.

Namun saya sangat bersyukur bahwa pada akhirnya semua hal negatif tersebut bisa saya lalui dan  menjadi sebuah pembelajaran - pembelajaran hidup yang enggak lain ditujukan untuk memperkuat diri saya dan hubungan saya dengan apa yang paling penting dalam hidup.



Di tahun ini saya menemukan makna baru dibalik beberapa hal yang sudah ada sejak lama dalam hidup saya. Tentang makna sholat yang bukan lagi sebatas sebuah kewajiban, tetapi tempat saya mencari kedamaian untuk diri saya sendiri. Tentang makna keluarga yang bukan lagi sebatas "orang - orang yang mau-enggak-mau terus ada di dalam hidup saya", tetapi sebagai orang - orang yang menyelamatkan hidup saya. Tentang kesabaran untuk menunggu dan tetap meyakini bahwa yang terbaik akan datang di waktu yang terbaik, sehingga enggak perlu memaksakan apa yang bukan sesuai dengan diri saya. Tentang pola hidup semi-vegetarian atau mereka menyebutnya flexitarian yang ternyata jauh lebih menyenangkan daripada omnivarian. Tentang hasrat untuk melakukan perjalanan keliling dunia yang tidak lagi terlihat menyenangkan tanpa adanya rekan. Tentang makna bumi pertiwi yang sudah mendarah daging di dalam tubuh saya dan sampai kapanpun enggak akan tergantikan, sekalipun oleh nikmatnya kehidupan di negera dunia pertama. Tentang kekuatan pikiran yang harus lebih sering dikendalikan agar tidak berbalik menyerang diri. Tentang pentingnya menjaga kekuatan jiwa agar raga bisa tetap berfungsi.

Saya juga menemukan berbagai perspektif baru yang membuat saya akhirnya bisa mengerti dan memahami tentang perbedaan sudut pandang yang dimiliki oleh orang lain, yang dulunya belum bisa saya pahami. Bahkan enggak sedikit diantaranya yang bisa meyakinkan saya untuk bisa menyetujui mereka yang awalnya bertentangan dengan pemikiran saya. Sebaliknya, ada beberapa keyakinan yang dilepas karena tidak lagi sesuai dengan pengalaman yang saya lalui. Enggak ada yang salah, karena semua itu enggak lain hanya akan membuat saya semakin menjadi seseorang yang bisa melihat segalanya dari berbagai sisi. 


Terima kasih untuk berbagai pembelajaran yang semakin menguatkanku, 2016. Dan, hai, 2017! Semoga kamu bisa memberikan lebih banyak hari - hari dimana aku lebih bersyukur ketimbang mengeluh, berlapang dada ketimbang khawatir, dan tertawa lepas ketimbang menangis. Semoga kamu bisa memberikan dunia lebih banyak berita positif yang enggak lain berujung bahagia dan harapan baru bahwa hidup ini layak untuk terus diperjuangkan. 

December 31, 2016

#ROH 60 : Cats

Diantara berbagai kebahagiaan baru yang saya dapatkan di tahun ini, Pingo dan Mei adalah salah satu yang enggak pernah saya sangka akan masuk ke dalam #ROH. Semenjak dua puluh tiga tahun yang lalu Bunda sempat keguguran karena virus tokso dari salah satu kucing yang dulu sempat dipelihara oleh nenek saya, keluarga saya cukup hati - hati dalam memelihara binatang, terutama kucing. Makanya begitu saya tinggal dengan Satya yang membawa kedua kucingnya all the way from Brazil, saya sempat merasa kagok melihat keberadaan Pingo dan Mei. Saya inget banget, padahal baru sekitar dua minggu saya tinggal bareng, Pingo udah beberapa kali 'membangunkan' saya pagi buta karena kelaparan (biasanya di saat Satya lagi enggak di rumah). Awalnya saya sempat shock dan mengeluh ketika melihat Pingo tiba - tiba di depan muka saya dan kadang malah lompat ke kasur saya saat masih tidur; atau ketika menemukan Mei udah di dalam selimut saya ketika saya pulang kerja. 



Namun semakin lama saya tinggal dengan mereka, saya sadar sebenarnya bukan salah mereka. Melihat kedua housemates saya yang bisa segitu dekatnya dan bahkan terkadang memperlakukan mereka layaknya anak kecil, justru sadar bahwa saya yang terlalu 'kaku' karena enggak pernah tinggal dengan kucing atau binatang lainnya. Setiap pulang kerja dan membuka pintu apartemen, pasti Pingo dan Mei udah di depan pintu menyambut kedatangan saya. Setiap kali saya sedang sendiri di apartemen, pasti mereka juga ikut 'nongkrong' di lantai atas, tepatnya di depan kamar saya, seraya menemani saya. Enggak jarang juga Pingo mengelus kaki saya, yang kata housemates saya, menandakan bahwa ia suka dengan saya! Dan yaa, akhirnya sekarang saya justru merasa keberadaan Pingo dan Mei memberikan kehangatan tersendiri. Saya pun jadi merasa ikutan senang begitu melihat Mei yang awalnya pemalu dan enggak mudah dekat dengan orang baru, sekarang udah mau dielus-elus sama saya. Malah terkadang saya yang suka gemes sendiri dan suka iseng kalo melihat Mei lagi diem. Ha! Bakalan kangen pasti kalo nanti enggak tinggal serumah lagi dengan mereka :")

#ROH 59 : Light

Entah sejak kapan saya menjadi penggemar lampu, hingga salah satu bagian yang membuat saya betah berlama - lama di IKEA adalah bagian yang menjual lampu. Hingga saya selalu bermimpi menghiasi rumah saya nantinya di beberapa minggu di bulan Desember dengan dipenuhi lampu - lampu kecil ini. Alhamdulillah, impian saya memiliki kamar dengan lampu LED akhirnya terpenuhi tahun ini, meskipun menurut saya masih kurang meriah (padahal udah dipasang tiga kabel lampu LED yang berbeda. Ha!). Kayanya itu juga alasan mengapa saya selalu menyukai bulan Desember. Karena hanya di bulan ini saya bisa menikmati berbagai lampu yang meriah selain di toko maupun di kamar saya sendiri. Dimana seisi kota terlihat lebih meriah dan cantik dengan berbagai jenis, bentuk, dan warna lampu. Di atas jalan. Toko - toko. Pepohonan. Restoran dan kafe. Rumah dan apartemen yang saya lalui. Sayang, koleksi foto saya enggak begitu banyak. Terkadang saya terlalu menikmati cahaya - cahaya tersebut dengan kedua mata saya sendiri, hingga lupa untuk memfotonya. Seandainya berbagai dekorasi tersebut terus ada sepanjang tahun, pasti malam enggak lagi menakutkan. Dan mungkin dengan begitu, saya akan lebih menyukai gelap. Karena hanya saat itu saya bisa melihat keindahan dari berbagai cahaya lampu yang terpancar di tengah kegelapan.